Rabu, 27 Februari 2013

Rias Pengantin Yogyakarta

TATA RIAS PENGANTIN YOGYAKARTA 

 

 


PENGANTIN WANITA
Tatar rias wajah dan rambut pengantin Yogyakarta memang unik. Meski mengenakan paes hitam seperti halnya pengantin Solo, namun pengantin Yogyakarta Paes Ageng memasukan warna emas (prada) sebagai penegas paes. Paes memiliki makna yaitu upaya mempercantik diri dan diharapkan dapat membuang jauh-jauh perbuatan buruk dan diharapkan pula pengantin wanita menjadi orang yang shaleh dan dewasa.
Selain paes, pengantin wanita memakai sanggul bokor mengkurep, dengan ronce  bunga gajah ngolig, teplok, dan bunga sritaman. Perhiasan yang digunakan adalah ceplok jebehen sritaman dan bros dua buah, pethat gunungan atau menthul sebanyak 5 buah, centung gelombang serta subang ronyok. Pethat gunungan dan menthul dipasang menghadap ke belakang menjadi simbol peringatan kepada manusia agar memiliki sifat konsekuen. Riasan pengantin wanita dipandang dari depan akan tampak bersinar dan bercahaya. Hal ini menjadi simbol dan harapan agar manusia jangan hanya baik dipandang   depan saja, tapi juga harus dari belakang.

PENGANTIN PRIA
Sementara itu, pengantin pria  mengenakan kuluk, ukel ngore (buntut rambut menjuntai) yang dilengkapi sisir dan cundhuk mentul kecil. Sebuah keklasikan yang menjadi simbol keindahan dan keagungan dari kraton Yogyakarta.

Macam & Kegunaan Busana dan Rias Pengantin Jogjakarta

Kali ini kami akan memberikan informasi mengenai macam dan kegunaan Busana dan Rias Pengantin Jogjakarta. Pada dasarnya, untuk riasan terbagi menjadi 2, yaitu riasan Paes Ageng dan Jogja Putri yang memiliki ciri khas tersendiri. Muncul nya bermacam tata rias serta busana Pengantin gaya Jogjakarta bermula dari lingkungan kehidupan para Priayi yang berarti orang yang berasal dari kerabat Keraton atau lapisan masyarakat yang kedudukan nya terhormat. Fungsi dan tiap corak memang berbeda, namun dewasa ini fungsi tersebut sering tidak dilaksanakan sebagai mana mesti nya.
Untuk itu, akan kami jelaskan satu demi satu.

Corak Pengantin Paes Ageng

Busana ini pada zaman dahulu dikenakan oleh putra dan putri Sri Sultan pada upacara perkawinan di dalam Keraton Ngayogyakarta yaitu pada saat upacara adat Panggih , namun pada perkembangan nya, busana ini saat ini boleh di pergunakan oleh masyarakat umum.
Busana Pengantin Paes Ageng terdiri dari kain dodot/kampuh yaitu kain dengan lebar 2 kali dari kain biasa serta dengan panjang kurang lebih 3,5 meter.
Tata Rias Paes Ageng memiliki ciri khas, yaitu di bagian tepi cengkorongan diberi prada(serbuk emas), sanggul yang dikenakan berupa gelung bokor yang terbuat dari irisan daun pandan yang di tutup rangkaian melati. Pada daun telinga diberi sumping daun papaya yang bagian tengahnya di olesi pidih dan prada, namun daun papaya ini bias di ganti dengan sumping dari emas imitasi.



Corak Paes Ageng Kanigaran

Tata Rias serta busana Pengantin Kanigaran sama dengan Paes Ageng, yaitu mengenakan kain dodot namun jika pada Busana dodot Paes Ageng pengantin tidak mengenakan baju, disini Pengantin mengenakan beskap dan kebaya beludru.
Corak Pengantin Jangan Menir

Dahulu, busana ini di kenakan pada saat upacara Boyongan, yaitu saat Pengantin Putri boyongan ( pindah) ke kediaman Pengantin Pria, biasa sehari setelah Upacara Perkawinan di lakukan.
Riasan dari Jenis Busana ini sama dengan riasan Paes Ageng. Busana yang di kenakan berupa Beskap dan Kebaya beludru di lengkapi dengan perhiasan yang khas dengan kain cinde merah sebagai bawahan nya.

Corak Pengantin Jogja Putri

Busana yang dikenakan adalah sepasang busana Beludru dengan kain pengantin sebagai bawahan nya, seperti motif Sidomukti, Sidoasih, Sidoluhur, Semen Romo,dll
Tata Rias pengantinWanita pada corak Jogja Putri memiliki ciri khas, sanggul cemara, dengan di hias bunga jebehan merah serta perhiasan satu buah cunduk mentul dan gunungan di atas sanggul.



Corak Kesatrian Ageng

Busana pada corak ini hampir sama dengan corak pengantin Jogja Putri, namun untuk busana Pengantin Pria berupa Surjan yaitu baju panjang yang terbuat dari kain sutra motif bunga polos.
*diambil dari berbagai sumber.

 http://chandrarini.com/macam-kegunaan-busana-dan-rias-pengantin-jogjakarta



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar